Ichiro

Standard

Jalan Pesanggrahan itu deket banget sama lokasi rumah saya, makanya saya selalu ngeh setiap ada “wajah baru” yang hadir di culinary street tersebut. Kali ini ada resto ramen baru. Saya pikir nekad juga ya buka dekat dengan Ikkudo Ichi. Paling gak harus bisa nyamain rasa kaldunya atau lebih bagus lagi kalau bisa lebih enak, kalau mau tetap bertahan di percaturan kuliner Jakarta (that’s absolutely true!).

Sebelum ada Ichiro, dulu bekas resto Ampera. Entah kenapa tutup, padahal ya makanannya lumayan enak dan harganya murah. Mungkin makanan Indonesia kurang diminati di daerah perumahan Jakarta Barat ya? Area parkirnya sih lumayan luas lah. Saya pergi kesana pas tanggal merah dan jam nanggung di sore hari, jadi tidak terlalu ramai.

Ruangannya nyaman, didominasi warna merah dan furniture terbuat dari kayu. Untuk kursinya tidak diberi sandaran (bangku kayu), ya khas warung di Jepang sana, supaya tamunya gak pada ngobrol. Begitu selesai makan langsung cabut gitu. Buku menunya bagus, begitu saya buka….banyak bener jenis ramennya. Udah saya baca-baca dan lihat foto-fotonya, tetep aja masih bingung mau order yang mana. Alhasil, saya panggil pelayannya dan langsung nanya: “Mbak, yang paling enak atau yang jadi favorit di tempat ini yang mana?”. Masa malah saya dibacain menu, lah, gimana sih? Bener-bener dibacain semua satu-satu. Yaela…itu mah saya bisa baca sendiri. Biasanya dijawabin gak jelas gitu, rasanya pasti biasa-biasa aja. Kalau asumsi tanpa nyoba gak sah donk ya….

Finally, saya lihat fotonya yang paling menarik, trus saya lihat penjabarannya dan cap cip cup, saya putuskan untuk order yang namanya Akao (IDR 54k). Apa itu Akao? Ternyata itu ramen dengan kuah aroma cabe bakar. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, semangkuk besar ramen langsung tersaji di depan mata. Tekstur ramennya lurus, pas matangnya, tidak terlalu keras dan juga tidak terlalu lunak. Dilengkapi dengan topping chashu babi, ½ potong telur rebus Nitamago yang nyaris matang (secara bagian kuningnya teksturnya hampir padat kayak telur rebus biasa, sigh….), potongan tipis jamur dan taburan daun bawang. Suapan pertama belum terasa pedasnya, kaldunya tipis dan rasanya buat saya sih just okay. Setelah beberapa suapan baru tuh rasa cabai mulai membakar lidah dan kerongkongan saya. Pesan saya, jangan ngobrol pas lagi makan kuahnya apalagi sampai keselek, bakalan panas tuh kerongkongan.

Akao ichiro

Untuk ramen kedua saya pesan Kosyoo (IDR 54k). Kuahnya merupakan campuran aneka lada Jepang. Rasanya pedas merica banget! Saya sih kurang suka ya pedas merica begini, lebih pilih pedas cabai. Ini bakal jadi yang pertama sekaligus terakhir saya order Kosyoo, maaf, saya gak suka. Mungkin kalau addict sama merica ya cocok lidahnya ya. Untuk topping-topppingnya semua sama dengan Akao. Untuk minuman pas banget kalau pesan Ocha Dingin (IDR 10k) untuk meredakan rasa pedasnya.

kosyoo ichiro

Kesimpulannya, rasanya biasa aja, kaldunya kurang kuat. Rasa kaldunya ketutup sama bumbu-bumbu tambahannya seperti cabai atau merica. Mungkin kalau saya ada kesempatan kesini lagi, saya akan coba varian yang polos, alias tanpa embel-embel bumbu tambahan.

 

 

Jl. Pesanggrahan RT 11/03

Jakarta Barat

Ph: 021-58903684

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s