Lestarilah Kuliner Indonesia-ku!

Standard

“Ingin jajan apa, nak, hari ini?” tanya sang ibu. Spontan sekumpulan anak berusia 7-10 tahun berebutan menjawab,”Aku mau Burger!” “Pizza!” “Aku ingin Fried Chicken” (sambil menyebutkan brand resto cepat saji Internasional yang namanya mashyur di negeri kita). Percakapan antar dua generasi itu sering kita dengar tentunya dan menjadi hal biasa yang kita maklumi.

Maraknya serbuan ‘cita rasa’ Internasional itu membuat makin terkikisnya pamor dari kuliner asli Indonesia. Harus kita akui, sebagian besar generasi muda di era modern sekarang ini merasa asing bahkan ada yang sudah tak lagi mengenal apa itu hidangan daerah, apa itu jajanan pinggir jalan, apa itu pasar tradisional. Lidah mereka telah terbiasa untuk menyantap makanan ala Western seperti yang biasa terpampang di layar televisi dalam film Hollywood atau dalam iklan layanan antar fast food yang berseliweran di depan mata mereka setiap harinya. Tak mengenal bukan berarti tak pernah mendengar atau tak pernah tahu, mereka hanya tidak peduli…..

Miris memang melihat kenyataan tersebut. Kadang kita lupa, bukan hanya budaya seni atau budaya adat istiadat saja yang perlu kita lestarikan. Namun budaya kuliner Indonesia yang ragam dengan rasanya yang unik dan sarat akan kreatifitas rasa, perlu kita turunkan kepada generasi selanjutnya. Tidak perlu muluk-muluk memikirkan cara untuk memperkenalkan ‘cita rasa tradisional’ pada angkatan usia dini itu. Pinggir jalan adalah tempat yang tepat untuk kita mulai membangun rasa cinta akan kekayaan kuliner Indonesia.

Teringat dengan nostalgia masa kecilku. Kadang Ibu suka mengajakku untuk menemaninya berbelanja ke pasar. Bukan aktivitas belanjanya yang aku suka, tapi pulang membeli jajanan apa adalah hal yang kunanti-nantikan. Gemblong, kue lapis, wajik, getuk, nagasari, klepon, putu mayang,……. Wah, hanya dengan menuliskan nama-nama kue basah itu, aku langsung menelan ludah. Mendadak kangen! Kebiasaan ngemil kue-kue tradisional itu terbawa sampai usia dewasa. Benar-benar jadi bagian tak terpisahkan dari diriku.

Pernah sempat tinggal di Salatiga, kota kecil di Jawa Tengah, membuatku menyadari akan kebiasaan mereka untuk tidak melewatkan sesi sarapan di pagi hari. Warung sederhana bernama Kartoali yang hanya bermodalkan kayu bangku biasa, berlokasi di dalam gang sempit, sampai sekarang tetap eksis keberadaannya. Hanya menyajikan nasi dengan berbagai lauk alias rames, namun mampu menciptakan ikatan batin yang kuat dengan penikmatnya. Asyik sekali melihat orang-orang makan langsung dengan satu tangan, tanpa sendok/garpu, berikut sebelah kaki yang diangkat di atas bangku. Tidak akan pernah kita jumpai pemandangan ‘indah’ seperti itu di tempat elite alias di restoran atau di mal. Jangan lupa juga untuk sekedar mampir di warung Gudeg Koyor atau menghapus panasnya matahari di siang hari dengan menikmati Es Kesambi yang tersohor itu.

Semarang dengan lumpia Mataram atau lumpia Gang Lomboknya, adalah contoh sukses makanan tradisi kaki lima yang tetap lestari sampai saat ini, bahkan tanpa sadar telah menjadi icon kuliner di kota tersebut. Selalu rindu juga untuk blusukan di sepanjang Gang Baru, pusat jajanan kaki lima & panganan khas Jawa Tengah. Lapar mata pasti menyerang jika menyusuri jalanan itu. Pagi adalah saat yang tepat untuk berburu street food ala Java. Dari aneka nasi, kue, macam-macam es, soto, gorengan yang menggiurkan; semuanya terpampang jelas siap untuk dilahap. Malam harinya paling suka nongkrong di Warung Bu Pini, Nasi Ayam-nya ajib! Dengan berbagai side dishes seperti aneka sate, ati ampela, jeroan, benar-benar jaminan seporsi tak akan pernah cukup. Yang membuat penikmat jajanan kaki lima selalu kembali dan kembali lagi, selain rasanya yang jujur dan otentik, harganya sangatlah bisa membuat dompet kita selalu tersenyum. Kalau ingin santap makanan sehat, jangan lupa Nasi Pecel Yu Surip atau Yu Sri di Simpang Lima bisa jadi altenatif yang mak nyus.

Apabila budget sedang terbatas tapi ingin berlibur, Bandung adalah destinasi favorit bagi masyarakat Jakarta. Termasuk diriku! Batagor dan Es Bungsu selalu jadi must visit place di sana. Dari jalan Veteran sampai batagor yang hanya dijual di atas gerobak dorong yang nangkring manis di depan factory outlet, semuanya tak luput dari targetku. Perbedaan rasa dan racikan bahan tak membuatku serta merta pandang bulu akan penampilan dan lokasi dagangan mereka. Restoran ataupun pinggir jalan tak menjadi masalah, asalkan masih menjajakan panganan khas daerah. Warung Mak Eha di pasar Cihapit yang kabarnya akrab dengan keluarga Bung Karno, menjadi salah satu tempat sarapan favorit warga Bandung. Menunya yang beragam dan service-nya yang full ramah dan kekeluargaan, membuat aku betah berlama-lama di sana. Pepes dan sambal lalapnya spektakuler! Masih banyak jajanan khas di kota ini yang bisa kita jelajahi, seperti Nasi Kuning Pasar Koja, Lontong Kari Kebon Karet, Kupat Tahu Gempol. Untuk malam hari bisa coba Nasi Kalong atau Ceu Mar.

Seminggu yang lalu kebetulan juga aku mendapat kesempatan untuk berlibur di Bali. Tentu saja, kulinernya yang se-eksotis budayanya menjadi incaran utama dalam perjalananku kali ini. Lawar menjadi masakan yang harus ada di setiap menu Nasi Campur di Bali. Potongan aneka sayuran, daging kelapa dan ramuan bumbu herbal yang kuat menjadi ciri khas masakan tersebut. Yang membuat hati ini kembang kempis saking bangganya adalah ketika melihat turis-turis berambut pirang sangat menikmati hidangan tersebut. Bagi penggemar makanan non-halal, Babi Guling adalah wajib-kudu-harus hukumnya untuk dicoba. Garingnya kulit babi dipadu dengan bumbu yang terserap dalam lemaknya oleh asap api, menjadi godaan yang tak terelakkan. Rujak Kuah Pindang yang kutemukan tak sengaja di depot sederhana pinggiran jalan daerah Kuta, juga membuat aku takjub. Irisan buah segar dengan kuah rebusan ikan dan sedikit gula menjadi pilihan dessert yang luar biasa. Jika ada waktu lebih, bisa juga coba jelajahi pasar Ubud. Berbagai macam Sate Lilit, aneka Lawar dan bubur manis tersedia di sana.

Bagaimana dengan Jakarta? Walaupun kota metropolitan kita ini telah dipenuhi oleh bangunan gedung bertingkat, mal yang mewah serta restoran elite, namun keberadaan pedagang kaki lima atau warung pinggir jalan masih menjamur di beberapa lokasi. Makanan berat seperti sop kambing, soto ayam, nasi rames, nasi kapau, soto mie, dsb, sangatlah mudah kita jumpai dimanapun. Jajanan ringan seperti kue pancong, kue ape, rujak serut, es buah, gorengan, siomay dan bakso tak pelak lagi merajai kaki lima di jalanan. Jika sedang malas keluar rumah, jangan kuatir, abang ketoprak, bubur ayam, es krim medan dan nasi goreng tek-tek, siap beredar di depan kompleks rumah kita. Yang membuat aku bahagia adalah saat para pengusaha kuliner yang memiliki outlet di mal-mal besar, mengangkat jajanan kaki lima untuk ber-partner bersama memperkenalkan kepada masyarakat mengenai kuliner khas daerah. Tahu Gejrot, Es Cendol Bandung, Kerak Telor, Tahu Campur adalah sebagian dari jajanan kaki lima yang telah menjejakkan kaki di bangunan elite Jakarta. Berharap di waktu yang akan datang, beliau-beliau yang punya tekad seperti itu makin banyak bermunculan di negeri kita.

Beberapa lembar kertas tak cukup untuk menceritakan kekayaan kuliner dan beragamnya jajanan kaki lima negeri kita. Terlalu banyak dan terlalu luas untuk dipaparkan. Namun sebenarnya tak terlalu sulit buat kita untuk membuat mereka tetap lestari. Jangan pernah lelah untuk memperkenalkan eksistensi kuliner kita kepada generasi penerus bangsa. Mulailah dari rumah sendiri! Terbiasa menikmati makanan negeri sendiri bersama orang-orang tercinta akan menumbuhkan kesadaran untuk melanggengkan keberadaan kuliner Indonesia. Siapa lagi yang akan meneruskan  sejarah panjang panganan khas Indonesia kalau bukan kita sendiri, insan yang terlahir di Ibu Pertiwi ini dan mencari nafkah di tanah ini? Lestarinya budaya kuliner Indonesia itu letaknya di hati, hati yang cinta akan negeri ini. Jika kuliner kaki lima dapat bertahan sampai akhir, maka jayalah eksistensi kuliner Indonesia di negeri sendiri. Dan tak lepasnya kita bermimpi, agar suatu saat nanti keberadaan kuliner dan jajanan Indonesia dapat diakui dan dihargai di mata Internasional.

 

3 responses »

  1. I simply want to mention I am very new to blogging and site-building and truly liked this website. More than likely I’m planning to bookmark your website . You absolutely have excellent posts. Thanks for sharing with us your webpage.

  2. I would comparable to thnkx for the efforts you have situate in inscription this weblog. I am hoping the consistent high-grade website post commencing you in the upcoming as nicely. In point of fact your creative script abilities has positive me to get my identifiable website now. Truly the blogging is spreading its wings hastily. Your engrave awake is a great instance of it.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s